Sabtu, 05 Desember 2020

pemeriksaan sitopatologi dan histopatologi

 

A.    SITOPATOLOGI

Sitologi berasal dari akar kata cytos yang artinya cel dan logos artinya ilmu pengetahuan. Jadi sitologi berarti ilmu yang mempelajari tentang sel. Definisi sel adalah sel merupakan unit struktural yang terkecil dari mahluk hidup yang terdiri dari segumpal protoplasma dan inti sel. Selanjutnya seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga pada tahun 1930 ditemukan mikroskop elektron. Definisi sel selanjutnya berbunyi “ Sel adalah merupakan unit struktural dan fungsional yang terkecil yang mampu hidup di dalam suatu lingkungan yang mati“.

Pemeriksaan sitologi dapat dilakukan pada cairan tubuh (contoh adalah darah, urine, dan cairan serebrospinal) atau bahan yang disedot (ditarik keluar melalui hisap ke jarum suntik) dari tubuh. Sitologi dapat juga melibatkan pemeriksaan persiapan dengan menggores atau mencuci dari daerah tertentu dari tubuh. Misalnya, contoh umum sitologi diagnostik adalah evaluasi Pap serviks (disebut sebagai tes Papanicolaou atau Pap smear). Agar evaluasi sitologi dapat dilaksanakan, bahan bahan yang akan diperiksa disebar ke slide kaca dan diwarnai. Seorang ahli patologi kemudian menggunakan mikroskop untuk memeriksa sel-sel individu dalam sampel.

1.      Pemeriksaan Sitopatologi

a.       Pap Smear

Tes papanikolau atau Pap Smear adalah metode skrining ginekologi. Dilakukan pertama kali oleh Georgis Papanikolaou untuk menemukan proses-proses premalignant atau prakeganasan dan malignancy atau keganasan di ekstoserviks atau leher rahim bagian luar, dan infeksi dalam endoserviks atau leher rahim bagian dalam endometrium. Skrining secara teratur dapat mencegah sebagian besar kasus kanker serviks. Tes pap dapat mendeteksi perubahan awal sel leher rahim (displasia) sebelum berubah menjadi kanker. Pap Smear juga dapat mendeteksi sebagian besar kanker serviks pada tahap awal.

Cara pengambilan Vagina Smear

·         Isilah permintaan formulir dengan lengkap.

·         Tuliskan nama penderita pada label yang ada.

·         Sediakan botol atau tempat lain dengan bahan fiksasi ethyl alkohol 95%

·         Jangan melakukan vaginal lain sebelum mengambil smear.

·         Jangan memakai bahan pelicin untuk speculum.

·         Dengan speculum ambilah smear dengan mempergunakan “Ayre’s scraper”

·         Buat pulasan yang rata pada obyek glass.

·         Masukkan segara obyek glass tersebut kedalam bahan fiksasi biarkan paling sedikit selama 30 menit, kemudian keringkan diudara terbuka.

·         Masukkan slide pada tempat slide yang tersedia, kirimkan dengan amplop yang tersedia bersama dengan formulir permintaan.

·         Untuk evaluasi status hurmonal, dikerjakan prosedur yang sama, hanya scraping tidak di portio, melainkan pada dinding lateral vagina, dengan syarat tidak ada infeksi serta bila ada pengobatan hormonal telah dihentikan 2 minggu sebelumnya.

b.      Core Needle Biopsy

Core needle biopsy (CNB) adalah prosedur pengambilan sampel dari jaringan tumor menggunakan hollow core needle yang berukuran antara 11-16 gauge. Core needle biopsy (CNB) termasuk prosedur biopsi yang sederhana. Keuntungan dari Core needle biopsy (CNB) adalah CNB merupakan prosedur yang relatif aman, efektif, efisien waktu, dan tidak mahal. Sedangkan kerugiannya diantaranya CNB dapat menyebabkan infeksi, bekas luka pada area biopsi, dan penyebaran sel ganas pada rute jarum. Indikasi dari Stereotactic Core Needle Biopsy adalah adanya lesi solid dan tidak terpalpasi, sedangkan kontraindikasinya adalah mikrokalsifikasi yang tipis, bulat, seragam, dalam cluster dan masa yang bisa dipalpasi. Setelah mengerjakan CNB, hal selanjutnya yang wajib dilakukan oleh dokter adalah memberikan KIE (konseling, informasi, dan edukasi) mengenai hasil dari biopsi yang dilakukan.

Core biopsy menggunakan jarum ukuran 14-G, lebih dari 90% akurat untuk membedakan tumor ganas dan jinak. Core needle  biopsy biasa dilakukan lebih dulu sebagai modalitas biopsi. Open biopsy kemudian dilakukan jika diagnosis patologi meragukan atau tidak berkorelasi dengan dengan klinis dan radiolgis pasien. Biopsi tulang dengan CNB harus dilakukan dengan panduan CT atau fl ouroskopi dan multicore.

Sensitivitas dari CNB adalah 92%, dengan spesifisitas sebesar 100%. Untuk lesi yang bisa dipalpasi, operator biasanya akan memfiksasi lesi dengan satu tangansedangkan tangan lainnya melakukan biopsi. Untuk lesi yang tidak bisa dipalpasi, biasanyadibutuhkan panduan imaging, seperti mamografi, ultrasound, dan PEM (positron emissionmammography). CNB yang menggunakan bantuan imaging seperti ini untuk melokalisimasa disebut juga dengan CNB stereotaktik.3 Pada mamografi stereotaktik, komputerdigunakan untuk menunjukkan lokasi masa berdasarkan mammogram yang diambil daridua sudut yang berbeda. Pada ultrasound stereotaktik, operator akan melihat jarum yang digunakan pada monitor sehingga dapat membantu mengarahkan jarum tersebut ke area yang tepat. Jarum yang digunakan untuk CNB lebih besar dari jarum yang digunakan untuk FNA. Jarum pada CNB juga memiliki ujung pemotong khusus yang memungkinkan pemindahan sampel jaringan dalam jumlah yang lebih besar

c.       Fine Needle aspiration-biopsy

Fine Needle Aspirasi Biopsi (FNAB) atau aspirasi jarum halus adalah pemeriksaan langsung pada benjolan penderita tumor menggunakan jarum kecil, mulai ukuran 23 sampai dengan 27 tergantung pada ukuran, lokasi serta sifat tumor. Syarat dari pemeriksaan FNAB ini adalah tumor harus teraba dan dapat dijangkau jarum. Apabila tumor terlalu dalam atau tidak terlihat dari luar, sebagai contoh tumor paru, maka dapat dilakukan FNAB dengan tuntunan CT scan atau USG. Khusus untuk tumor kulit atau berupa ulkus, maka akan dilakukan scrapping atau kerokan.Jarum yang digunakan pada pemeriksaan FNAB, jarum halus dengan panjang yang berbeda tergantung pada lokasi dan sifat tumor.

Kelebihan dari pemeriksaan FNAB adalah cepat (selesai dalam 1 hari), tidak perlu puasa sehingga bisa dilakukan kapan saja, tidak terlalu sakit, dan bisa memberikan diagnosa yang akurat untuk penanganan lanjutan. Penderita dengan benjolan di leher, baik struma ataupun limfadenopati tercatat paling banyak dikirim ke laboratorium Patologi Anatomi (PA) untuk dilakukan FNAB, disusul benjolan payudara. Usia pasien beragam, mulai dari bayi sampai kdewasa. Jenis kelamin didominasi oleh wanita.

Hasil pemeriksaan FNAB dapat membantu klinisi dalam menegakkan diagnosa untuk kelanjutan terapi. Karena itulah bisa disebut sebagai triple diagnosis, berdasar diagnosa klinik dari klinisi, pemeriksaan modalitas lain seperti radiologi, dan akhirnya ditegakkan dengan diagnosa PA (FNAB), walaupun golden standard tetap adalah dengan pemeriksaan histopatologi jaringan.


Langkah – langkah pemeriksaan FNAB adalah setelah melalui meja pendaftaran, pasien masuk ruang pemeriksaan. Dokter spesialis patologi anatomi akan memeriksa, menentukan target yang akan ditusuk / puncture, melakukan puncture dan aspirasi sampel benjolan. Kemudian dibuat hapusan di obyek glass dari sampel tersebut, dilakukan pengecatan, dan diperiksa oleh dokter PA di bawah mikroskop.

 

Efek samping dari FNAB hampir tidak ada, kemungkinan nyeri pasca pemeriksaan terkadang ditemukan. Akan tetapi FNAB tidak membuat tumor makin menyebar seperti yang dikuatirkan penderita, dikarenakan jarumnya yang sangat kecil.

Karena itulah sangat penting pemeriksaan FNAB untuk penegakan awal diagnosa tumor, dapat ditentukan apakah tumor tersebut bersifat jinak, ganas, atau hanya radang saja. Bila diagnosa tumor sudah tegak, maka setelah FNAB biasanya akan diikuti pemeriksaan histopatologi jaringan dari bahan operasi, untuk memastikan diagnosa akhir dan pada kasus tumor ganas bisa menetukan staging/ stadium.

2.      Pewarnaan Jaringan

Pewarnaan bertujuan agar dapat mempertajam atau memperjelas berbagai elemen tisu, terutama sel-selnya, sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop. Motoda pewarnaan yang sering dilakukan dalam pembuata preparat metode parafin adalah metoda pewarnaan Hematoxilin-eosin.

Seperti merupakan peraturan, hamatoxillin digunakan terlebih dahulu dan setelah melalui proses diferensiasi, maka barulah eosin digunakan. Pertukaran tempat keduanya tampaknya akan menimbulkan kesukaran, karena pewarna hematoxilin akan mewarnai lebih cepat dari pada pewarna paduannya yang umumnya berperan sebagai counterstain yang intensitas pewarnaanya dapat diatur tanpa mempengaruhi pewarnaan hematoxilin.

Kesulitan tahapan ini adalah memilih jenis pewarna, karena dengan ketepatan pemilihan bahan pewarna dapat menyesuaikan bagian apa pada spesimen tersebut yang akan dilihat. Jika terjadi kesalahan dapat terjadi kekeliruan dalam tujuan penglihatan spesimen.

Pewarnaan perlu dilakukan karena objek dengan ketebalan 5 mikrometer akan terlihat transparan meskipun di bawah mikroskop. Pewarna yang biasa digunakan adalah hematoxylin dan eosin.

Hematoxylin akan memberi warna biru pada nukelus, sementara eosin memberi warna merah muda pada sitoplasma. Masih terdapat berbagai zat warna lain yang biasa digunakan dalam mikroteknik, tergantung pada jaringan yang ingin diamati. Ilmu yang mempelajari pewarnaan jaringan disebut histokimia.

Ada beberapa jenis pewarnaan :

·         pewarnaan sederhana : hanya untuk melihat bentuk sel, bisa dilakukan dengan menggunakan zat warna biru metilen (tersering) atau zat warna lainnya. Umumnya menggunakan satu jenis zat warna.

·          Pewarnaan khusus : Agar tampak kontras untuk membedakan beberapa komponen tertentu seperti spora dan kapsel pada sel bakteri atau pewarnaan komponen tertentu di sel seperti karbohidrat, dan lain-lain. Bisa juga pewarnaan komponen patologis tertentu yang mungkin ada di sel seperti badan inklusi. Pewarnaan khusus umumnya memerlukan dua macam zat warna atau lebih, juga memerlukan bahan dan teknik yang biasanya tidak tersedia di laboratorium klinik yang kecil, biasanya dilakukan di laboratorium patologi.

·         Pewarnaan differensial : bertujuan membedakan sifat tertentu dalam sel, contohnya inti dan sitoplasma digunakan pewarnaan hematoksilin dan eosin. Inti yang bersifat asam akan menyerap zat warna hematoksilin yang bersifat alkalis (basofilik) dan sitoplasma yang bersifat netral/ sedikit alkalis akan menyerap zat warna yang bersifat asam (eosinofilik).

·          Pewarnaan differensial lain : dalam teknik mikrobiologi untuk membedakan sifat sel bakteri (pewarnaan Gram dan Ziehl Nielsen)

Beberapa zat pengecat:

·         Mordant : bahan kimia yang digunakan sebagai fiksator/ menjadikan sesuatu (baisanya bahan kimia) tidak terlarut dan dapat beraksi dengan zat warna.Menurut definisinya : mordant ialah suatu zat warna yang memiliki gugus hidroksil dan karboksil, serta bermuatan negatif dan bersifat anionik. Beberapa mordant juga memiliki gugus amino dan bersifat kationik dan juga membutuhkan keberadaan metal agar bisa menampilkan warna yang lebih baik. Beberapa metal yang biasanya terikat dengan mordant ialah ion ferri, aluminium, Sifat anionik dan kationik ini menyebabkannya mampu berinteraksi dengan berbagai molekul yang berada di sel, terutama protein, karena protein memiliki rantai samping asam amino yang bisa bermuatan positif atau negatif, tergantung dari rasio kedua muatan tersebut. Secara biologis, mordant berperan penting untuk fiksasi protein yang biasanya dalam bentuk koloid menjadi bentuk yang lebih padat dan kemudian bereaksi dengan zat warna. Beberapa mordant yang sering digunakan ialah hematein (natural black 1), lainnya ialah chromoxane cyanine R (mordant blue 3) dan celestine biru B (mordant blue 14), keduanya biasa digunakan sebagai pengganti dari hematoksilin dengan adanya penambahan garam ferri. Alizarin merah-S (mordant red 3) berguna untuk memperlihatkan keberadaan kalsium pada kerangka embrio atau fetus.

·          Hematoksilin : diekstraksi dari sejenis tanaman logwood, jika dioksidasi akan membentuk haematein, senyawa yang berwarna biru keunguan. Digunakan bersama-sama dengan garam Fe(III) atau Al(III) untuk mewarnai inti sel.

·         Eosin : sering digunakan sebagai zat warna tandingan dari hematoksilin dalam pewarnaan H&E (haematoxylin and eosin) yang populer dalam teknik histologi. Eosin mewarnai sitoplasma sel menjadi merah jambu agak oranye, tergantung pH-nya, eosin juga mewarnai eritrosit menjadi merah sedikit kecoklatan, tergantung pH mediumnya.

·         Biru metilen : biasa digunakan sebagai pewarna yang umum, hanya untuk membedakan antara sel dan latar belakangnya saja, tanpa bermaksut melakukan kajian differensiasi. Biru metilen memberi warna biru cerah yang bisa bergradasi (biru muda sampai biru agak tua), jika mewarnai sel, bisa memperlihatkan keberadaan morfologi nukleolus dan pola struktur kromatin di dalam nukleolus.

Macam-macam pewarnaan Sitohistologi:

·         Diff quik.

 Diff-Quik adalah varian pewarna Romanowsky komersial, umumnya digunakan dalam pewarnaan sitologi untuk dengan cepat mewarnai dan membedakan berbagai noda, biasanya apusan darah dan non-ginekologi, termasuk aspirasi jarum halus. Hal ini didasarkan pada modifikasi dari pewarnaan Wright Giemsa yang dipelopori oleh Bernard Witlin pada tahun 1970. Ini memiliki kelebihan dibandingkan teknik pewarnaan Wright Giemsa yang lebih tua, karena mengurangi proses 4 menit menjadi operasi 15 detik yang disederhanakan, dan memungkinkan untuk peningkatan selektif. pewarnaan eosinofilik atau basofilik tergantung pada waktu smear yang tersisa dalam larutan pewarna.

·         Papanicolaou.

Pencelupan Papanicoloau (PAP) ditemukan oleh seorang saintis bernama Dr. George papanicoloau (1832-1962). Dilahirkan di Greece, beliau menerima ijazah dari Universiti Athens pada 1904 dan PhD dalam bidang zoology dari Universiti Munich pada 1910. Dr. George Papanicoloau mula memerikasa perubahan apusan vagina wanita pada 1923. Beliau menjumpai sel yang abnormal, besar, nucleus berubah bentuk dan hiperkromatik pada wanita yang menghidap kanser uterin. Penemuan ini dianggap sebagai satu titik permulaan untuk perkembangan bidang sitologi.

Pewarnaan sediaan dikerjakan di laboratorium sitologi. Pewarnaan sediaan sitologi yang dipakai adalah pewarnaan Papanicolaou. Pewarnaan papanicolaou digunakan untuk pemeriksaan sel dalam sekret, eksdudat, transudat atau biopsi berbagai jenis organ dalam dan jaringan. Prosedur pertama yaitu pewarnaan inti dengan Hema-toxylin dan orange G serta EA sebagai cat lawan yang mewarnai sitoplasma Prinsip pewarnaan Papanicolaou adalah melakukan pewarnaan, hidrasi dan dehidrasi sel.

3.      Pemfiksasian

Fiksasi adalah usaha manusia untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan agar tetap pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran. Bahan/larutan fiksatif yang sering digunakan dalam sitologi antara lain Alkohol ( Etanol ) dan Metanol ( Methyl Alkohol ).

Cara fiksasi ada 2 :

·         Fiksasi langsung Ialah fiksasi pada sediaan smear / apusan

Contohnya : Pap smear, FNAB yang langsung dibuat smear / apusan. Apusan endapan cairan yang sudah disentrifuge.

·         Fiksasi tidak langsung Ialah fiksasi yang dilakukan pada bahan/cairan yang tidak segera di buat sediaan.

Contohnya : C. ascites, C.pleura dsb difiksasi dengan alkohol 50 % perbandingan 1:1, kecuali untuk sputum difiksasi dengan alkohol 70 % perbandingan 1:1.

B.     HISTOPATOLOGI

Histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan secara detail menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang dipotong tipis, salah satu dari cabang-cabang biologi. Histologi dapat juga disebut sebagai ilmu anatomi mikroskopis. istologi sangat menggantungkan diri pada penggunaan mikroskop dan teknik penyediaan contoh jaringan.

Pemeriksaan Histopatologi adalah pemeriksaan dari jaringan tubuh manusia, dimana jaringan dilakukan pemeriksaan dan pemotongan makroskopis, diproses sampai siap menjadi slide atau preparat yang kemudian dilakukan pembacaan secara mikroskopis untuk penentuan diagnosis.

Histopatologi merupakan pemeriksaan standard emas untuk menegakkan diagnose sebagian besar kanker Histopatologi merupakan pemeriksaan secara mikroskopik pada salah satu bagian jaringan yang menjadi manifestasi dari suatu penyakit. Jaringan yang diperiksa berasal dari hasil operasi atau hasil biopsi.. 



Sumber:

http://rsd.sidoarjokab.go.id/pages/artikel/peran-pemeriksaan-fnab-dalam-penegakan-diagnosa-tumor

http://rstn.boalemokab.go.id/berita-135-pemeriksaan-histopatologi.html

Bethy S. Hernowo, dr., Sp.PA(K)., Ph.D, “Teknik Pengelolaan Sediaan Sitologi” Fk/Unpad/Rsup Dr.Hasan Sadikin Bandung




22 komentar:

  1. Wahh smoga ilmunya bermanfaat yahh kak

    BalasHapus
  2. Makasih kk, ilmunya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Terimakasih KK ilmunya sangat bermanfaat 👍

    BalasHapus
  5. Mantap. Jadi menambah wawasan.

    BalasHapus

pemeriksaan sitopatologi dan histopatologi

  A.     SITOPATOLOGI Sitologi berasal dari akar kata  cytos  yang artinya cel dan  logos  artinya ilmu pengetahuan. Jadi sitologi berar...