A.
SITOPATOLOGI
Sitologi berasal dari akar
kata cytos yang artinya cel dan logos artinya
ilmu pengetahuan. Jadi sitologi berarti ilmu yang mempelajari tentang sel.
Definisi sel adalah sel merupakan unit struktural yang terkecil dari mahluk
hidup yang terdiri dari segumpal protoplasma dan inti sel. Selanjutnya seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga pada tahun 1930 ditemukan
mikroskop elektron. Definisi sel selanjutnya berbunyi “ Sel adalah
merupakan unit struktural dan fungsional yang terkecil yang mampu hidup di
dalam suatu lingkungan yang mati“.
Pemeriksaan sitologi dapat
dilakukan pada cairan tubuh (contoh adalah darah, urine, dan cairan
serebrospinal) atau bahan yang disedot (ditarik keluar melalui hisap ke jarum
suntik) dari tubuh. Sitologi dapat juga melibatkan pemeriksaan persiapan dengan
menggores atau mencuci dari daerah tertentu dari tubuh. Misalnya, contoh umum
sitologi diagnostik adalah evaluasi Pap serviks (disebut sebagai tes
Papanicolaou atau Pap smear). Agar evaluasi sitologi dapat dilaksanakan, bahan
bahan yang akan diperiksa disebar ke slide kaca dan diwarnai. Seorang ahli
patologi kemudian menggunakan mikroskop untuk memeriksa sel-sel individu dalam
sampel.
1.
Pemeriksaan Sitopatologi
a.
Pap Smear
Tes papanikolau atau Pap Smear adalah
metode skrining ginekologi. Dilakukan pertama kali oleh Georgis
Papanikolaou untuk menemukan proses-proses premalignant atau
prakeganasan dan malignancy atau keganasan
di ekstoserviks atau leher rahim bagian luar, dan infeksi
dalam endoserviks atau leher rahim bagian dalam
endometrium. Skrining secara teratur dapat mencegah sebagian besar
kasus kanker serviks. Tes pap dapat mendeteksi perubahan awal sel
leher rahim (displasia) sebelum berubah menjadi kanker. Pap Smear juga
dapat mendeteksi sebagian besar kanker serviks pada tahap awal.
Cara pengambilan Vagina Smear
·
Isilah permintaan formulir dengan
lengkap.
·
Tuliskan nama penderita pada label
yang ada.
·
Sediakan botol atau tempat lain
dengan bahan fiksasi ethyl alkohol 95%
·
Jangan melakukan vaginal lain sebelum
mengambil smear.
·
Jangan memakai bahan pelicin untuk
speculum.
·
Dengan speculum ambilah smear
dengan mempergunakan “Ayre’s scraper”
·
Buat pulasan yang rata pada obyek
glass.
·
Masukkan segara obyek glass
tersebut kedalam bahan fiksasi biarkan paling sedikit selama 30 menit, kemudian
keringkan diudara terbuka.
·
Masukkan slide pada tempat slide
yang tersedia, kirimkan dengan amplop yang tersedia bersama dengan formulir
permintaan.
·
Untuk evaluasi status hurmonal,
dikerjakan prosedur yang sama, hanya scraping tidak di portio, melainkan pada
dinding lateral vagina, dengan syarat tidak ada infeksi serta bila ada
pengobatan hormonal telah dihentikan 2 minggu sebelumnya.
b.
Core Needle Biopsy
Core needle biopsy (CNB) adalah prosedur pengambilan sampel dari
jaringan tumor menggunakan hollow core needle yang berukuran antara 11-16
gauge. Core needle biopsy (CNB) termasuk prosedur biopsi yang sederhana.
Keuntungan dari Core needle biopsy (CNB) adalah CNB merupakan prosedur yang
relatif aman, efektif, efisien waktu, dan tidak mahal. Sedangkan kerugiannya
diantaranya CNB dapat menyebabkan infeksi, bekas luka pada area biopsi, dan
penyebaran sel ganas pada rute jarum. Indikasi dari Stereotactic Core Needle
Biopsy adalah adanya lesi solid dan tidak terpalpasi, sedangkan kontraindikasinya
adalah mikrokalsifikasi yang tipis, bulat, seragam, dalam cluster dan masa yang
bisa dipalpasi. Setelah mengerjakan CNB, hal selanjutnya yang wajib dilakukan
oleh dokter adalah memberikan KIE (konseling, informasi, dan edukasi) mengenai
hasil dari biopsi yang dilakukan.
Core biopsy menggunakan jarum ukuran 14-G, lebih dari 90% akurat untuk
membedakan tumor ganas dan jinak. Core needle biopsy biasa dilakukan
lebih dulu sebagai modalitas biopsi. Open biopsy kemudian dilakukan jika
diagnosis patologi meragukan atau tidak berkorelasi dengan dengan klinis dan
radiolgis pasien. Biopsi tulang dengan CNB harus dilakukan dengan panduan CT
atau fl ouroskopi dan multicore.
Sensitivitas dari CNB adalah 92%, dengan spesifisitas sebesar 100%.
Untuk lesi yang bisa dipalpasi, operator biasanya akan memfiksasi lesi dengan
satu tangansedangkan tangan lainnya melakukan biopsi. Untuk lesi yang tidak
bisa dipalpasi, biasanyadibutuhkan panduan imaging, seperti mamografi,
ultrasound, dan PEM (positron emissionmammography). CNB yang menggunakan
bantuan imaging seperti ini untuk melokalisimasa disebut juga dengan CNB
stereotaktik.3 Pada mamografi stereotaktik, komputerdigunakan untuk menunjukkan
lokasi masa berdasarkan mammogram yang diambil daridua sudut yang berbeda. Pada
ultrasound stereotaktik, operator akan melihat jarum yang digunakan pada
monitor sehingga dapat membantu mengarahkan jarum tersebut ke area yang tepat. Jarum
yang digunakan untuk CNB lebih besar dari jarum yang digunakan untuk FNA. Jarum
pada CNB juga memiliki ujung pemotong khusus yang memungkinkan pemindahan
sampel jaringan dalam jumlah yang lebih besar
c. Fine Needle aspiration-biopsy
Fine Needle Aspirasi Biopsi (FNAB) atau aspirasi
jarum halus adalah pemeriksaan langsung pada benjolan penderita tumor menggunakan
jarum kecil, mulai ukuran 23 sampai dengan 27 tergantung pada ukuran, lokasi
serta sifat tumor. Syarat dari pemeriksaan FNAB ini adalah tumor harus teraba
dan dapat dijangkau jarum. Apabila tumor terlalu dalam atau tidak terlihat dari
luar, sebagai contoh tumor paru, maka dapat dilakukan FNAB dengan tuntunan CT
scan atau USG. Khusus untuk tumor kulit atau berupa ulkus, maka akan
dilakukan scrapping atau kerokan.Jarum yang digunakan pada
pemeriksaan FNAB, jarum halus dengan panjang yang berbeda tergantung pada
lokasi dan sifat tumor.
Kelebihan dari pemeriksaan FNAB adalah cepat
(selesai dalam 1 hari), tidak perlu puasa sehingga bisa dilakukan kapan saja,
tidak terlalu sakit, dan bisa memberikan diagnosa yang akurat untuk penanganan
lanjutan. Penderita dengan benjolan di leher, baik struma ataupun limfadenopati
tercatat paling banyak dikirim ke laboratorium Patologi Anatomi (PA) untuk
dilakukan FNAB, disusul benjolan payudara. Usia pasien beragam, mulai dari bayi
sampai kdewasa. Jenis kelamin didominasi oleh wanita.
Hasil pemeriksaan FNAB dapat membantu klinisi
dalam menegakkan diagnosa untuk kelanjutan terapi. Karena itulah bisa disebut
sebagai triple diagnosis, berdasar diagnosa klinik dari klinisi, pemeriksaan
modalitas lain seperti radiologi, dan akhirnya ditegakkan dengan diagnosa PA
(FNAB), walaupun golden standard tetap adalah dengan pemeriksaan histopatologi
jaringan.
![]() |
Langkah – langkah pemeriksaan FNAB adalah
setelah melalui meja pendaftaran, pasien masuk ruang pemeriksaan. Dokter
spesialis patologi anatomi akan memeriksa, menentukan target yang akan ditusuk
/ puncture, melakukan puncture dan aspirasi sampel benjolan.
Kemudian dibuat hapusan di obyek glass dari sampel tersebut,
dilakukan pengecatan, dan diperiksa oleh dokter PA di bawah mikroskop.
Efek samping dari FNAB hampir tidak ada,
kemungkinan nyeri pasca pemeriksaan terkadang ditemukan. Akan tetapi FNAB tidak
membuat tumor makin menyebar seperti yang dikuatirkan penderita, dikarenakan
jarumnya yang sangat kecil.
Karena itulah sangat penting pemeriksaan FNAB
untuk penegakan awal diagnosa tumor, dapat ditentukan apakah tumor tersebut
bersifat jinak, ganas, atau hanya radang saja. Bila diagnosa tumor sudah tegak,
maka setelah FNAB biasanya akan diikuti pemeriksaan histopatologi jaringan dari
bahan operasi, untuk memastikan diagnosa akhir dan pada kasus tumor ganas bisa
menetukan staging/ stadium.
2. Pewarnaan Jaringan
Pewarnaan bertujuan agar dapat mempertajam atau memperjelas berbagai
elemen tisu, terutama sel-selnya, sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan
mikroskop. Motoda pewarnaan yang sering dilakukan dalam pembuata preparat
metode parafin adalah metoda pewarnaan Hematoxilin-eosin.
Seperti merupakan peraturan, hamatoxillin digunakan terlebih dahulu dan
setelah melalui proses diferensiasi, maka barulah eosin digunakan. Pertukaran
tempat keduanya tampaknya akan menimbulkan kesukaran, karena pewarna
hematoxilin akan mewarnai lebih cepat dari pada pewarna paduannya yang umumnya
berperan sebagai counterstain yang intensitas pewarnaanya dapat diatur tanpa
mempengaruhi pewarnaan hematoxilin.
Kesulitan tahapan ini adalah memilih jenis pewarna, karena dengan
ketepatan pemilihan bahan pewarna dapat menyesuaikan bagian apa pada spesimen
tersebut yang akan dilihat. Jika terjadi kesalahan dapat terjadi kekeliruan
dalam tujuan penglihatan spesimen.
Pewarnaan perlu dilakukan karena objek dengan ketebalan 5 mikrometer
akan terlihat transparan meskipun di bawah mikroskop. Pewarna yang biasa
digunakan adalah hematoxylin dan eosin.
Hematoxylin akan memberi warna biru pada nukelus, sementara eosin
memberi warna merah muda pada sitoplasma. Masih terdapat berbagai zat warna
lain yang biasa digunakan dalam mikroteknik, tergantung pada jaringan yang
ingin diamati. Ilmu yang mempelajari pewarnaan jaringan disebut histokimia.
Ada beberapa jenis
pewarnaan :
·
pewarnaan sederhana : hanya untuk
melihat bentuk sel, bisa dilakukan dengan menggunakan zat warna biru metilen
(tersering) atau zat warna lainnya. Umumnya menggunakan satu jenis zat warna.
·
Pewarnaan khusus : Agar
tampak kontras untuk membedakan beberapa komponen tertentu seperti spora dan
kapsel pada sel bakteri atau pewarnaan komponen tertentu di sel seperti
karbohidrat, dan lain-lain. Bisa juga pewarnaan komponen patologis tertentu
yang mungkin ada di sel seperti badan inklusi. Pewarnaan khusus umumnya
memerlukan dua macam zat warna atau lebih, juga memerlukan bahan dan teknik
yang biasanya tidak tersedia di laboratorium klinik yang kecil, biasanya
dilakukan di laboratorium patologi.
·
Pewarnaan differensial : bertujuan
membedakan sifat tertentu dalam sel, contohnya inti dan sitoplasma digunakan
pewarnaan hematoksilin dan eosin. Inti yang bersifat asam akan menyerap zat
warna hematoksilin yang bersifat alkalis (basofilik) dan sitoplasma yang
bersifat netral/ sedikit alkalis akan menyerap zat warna yang bersifat asam
(eosinofilik).
·
Pewarnaan differensial lain
: dalam teknik mikrobiologi untuk membedakan sifat sel bakteri (pewarnaan Gram
dan Ziehl Nielsen)
Beberapa zat pengecat:
·
Mordant : bahan kimia yang
digunakan sebagai fiksator/ menjadikan sesuatu (baisanya bahan kimia) tidak
terlarut dan dapat beraksi dengan zat warna.Menurut definisinya : mordant ialah
suatu zat warna yang memiliki gugus hidroksil dan karboksil, serta bermuatan
negatif dan bersifat anionik. Beberapa mordant juga memiliki gugus amino dan
bersifat kationik dan juga membutuhkan keberadaan metal agar bisa menampilkan
warna yang lebih baik. Beberapa metal yang biasanya terikat dengan mordant
ialah ion ferri, aluminium, Sifat anionik dan kationik ini menyebabkannya mampu
berinteraksi dengan berbagai molekul yang berada di sel, terutama protein,
karena protein memiliki rantai samping asam amino yang bisa bermuatan positif
atau negatif, tergantung dari rasio kedua muatan tersebut. Secara biologis,
mordant berperan penting untuk fiksasi protein yang biasanya dalam bentuk
koloid menjadi bentuk yang lebih padat dan kemudian bereaksi dengan zat warna.
Beberapa mordant yang sering digunakan ialah hematein (natural black 1),
lainnya ialah chromoxane cyanine R (mordant blue 3) dan celestine biru B
(mordant blue 14), keduanya biasa digunakan sebagai pengganti dari hematoksilin
dengan adanya penambahan garam ferri. Alizarin merah-S (mordant red 3) berguna
untuk memperlihatkan keberadaan kalsium pada kerangka embrio atau fetus.
·
Hematoksilin : diekstraksi
dari sejenis tanaman logwood, jika dioksidasi akan membentuk haematein, senyawa
yang berwarna biru keunguan. Digunakan bersama-sama dengan garam Fe(III) atau
Al(III) untuk mewarnai inti sel.
·
Eosin : sering digunakan sebagai
zat warna tandingan dari hematoksilin dalam pewarnaan H&E (haematoxylin and
eosin) yang populer dalam teknik histologi. Eosin mewarnai sitoplasma sel
menjadi merah jambu agak oranye, tergantung pH-nya, eosin juga mewarnai
eritrosit menjadi merah sedikit kecoklatan, tergantung pH mediumnya.
·
Biru metilen : biasa digunakan
sebagai pewarna yang umum, hanya untuk membedakan antara sel dan latar
belakangnya saja, tanpa bermaksut melakukan kajian differensiasi. Biru metilen
memberi warna biru cerah yang bisa bergradasi (biru muda sampai biru agak tua),
jika mewarnai sel, bisa memperlihatkan keberadaan morfologi nukleolus dan pola
struktur kromatin di dalam nukleolus.
Macam-macam
pewarnaan Sitohistologi:
·
Diff quik.
Diff-Quik adalah varian pewarna Romanowsky
komersial, umumnya digunakan dalam pewarnaan sitologi untuk dengan cepat
mewarnai dan membedakan berbagai noda, biasanya apusan darah dan
non-ginekologi, termasuk aspirasi jarum halus. Hal ini didasarkan pada
modifikasi dari pewarnaan Wright Giemsa yang dipelopori oleh Bernard Witlin
pada tahun 1970. Ini memiliki kelebihan dibandingkan teknik pewarnaan Wright
Giemsa yang lebih tua, karena mengurangi proses 4 menit menjadi operasi 15
detik yang disederhanakan, dan memungkinkan untuk peningkatan selektif. pewarnaan
eosinofilik atau basofilik tergantung pada waktu smear yang tersisa dalam
larutan pewarna.
·
Papanicolaou.
Pencelupan
Papanicoloau (PAP) ditemukan oleh seorang saintis bernama Dr. George
papanicoloau (1832-1962). Dilahirkan di Greece, beliau menerima ijazah dari
Universiti Athens pada 1904 dan PhD dalam bidang zoology dari Universiti Munich
pada 1910. Dr. George Papanicoloau mula memerikasa perubahan apusan vagina
wanita pada 1923. Beliau menjumpai sel yang abnormal, besar, nucleus berubah
bentuk dan hiperkromatik pada wanita yang menghidap kanser uterin. Penemuan ini
dianggap sebagai satu titik permulaan untuk perkembangan bidang sitologi.
Pewarnaan sediaan
dikerjakan di laboratorium sitologi. Pewarnaan sediaan sitologi yang dipakai
adalah pewarnaan Papanicolaou. Pewarnaan papanicolaou digunakan untuk
pemeriksaan sel dalam sekret, eksdudat, transudat atau biopsi berbagai jenis
organ dalam dan jaringan. Prosedur pertama yaitu pewarnaan inti dengan
Hema-toxylin dan orange G serta EA sebagai cat lawan yang mewarnai sitoplasma Prinsip
pewarnaan Papanicolaou adalah melakukan pewarnaan, hidrasi dan dehidrasi sel.
3. Pemfiksasian
Fiksasi adalah
usaha manusia untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan agar tetap
pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran. Bahan/larutan
fiksatif yang sering digunakan dalam sitologi antara lain Alkohol ( Etanol )
dan Metanol ( Methyl Alkohol ).
Cara fiksasi ada 2
:
·
Fiksasi langsung Ialah fiksasi
pada sediaan smear / apusan
Contohnya : Pap
smear, FNAB yang langsung dibuat smear / apusan. Apusan endapan cairan yang
sudah disentrifuge.
·
Fiksasi tidak langsung Ialah
fiksasi yang dilakukan pada bahan/cairan yang tidak segera di buat sediaan.
Contohnya : C.
ascites, C.pleura dsb difiksasi dengan alkohol 50 % perbandingan 1:1, kecuali
untuk sputum difiksasi dengan alkohol 70 % perbandingan 1:1.
B.
HISTOPATOLOGI
Histologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang struktur jaringan secara detail menggunakan mikroskop pada
sediaan jaringan yang dipotong tipis, salah satu dari cabang-cabang biologi.
Histologi dapat juga disebut sebagai ilmu anatomi mikroskopis. istologi sangat
menggantungkan diri pada penggunaan mikroskop dan teknik penyediaan contoh
jaringan.
Pemeriksaan Histopatologi adalah pemeriksaan dari jaringan tubuh manusia, dimana jaringan dilakukan pemeriksaan dan pemotongan makroskopis, diproses sampai siap menjadi slide atau preparat yang kemudian dilakukan pembacaan secara mikroskopis untuk penentuan diagnosis.
Histopatologi merupakan pemeriksaan standard emas untuk menegakkan diagnose sebagian besar kanker Histopatologi merupakan pemeriksaan secara mikroskopik pada salah satu bagian jaringan yang menjadi manifestasi dari suatu penyakit. Jaringan yang diperiksa berasal dari hasil operasi atau hasil biopsi..
Sumber:
http://rsd.sidoarjokab.go.id/pages/artikel/peran-pemeriksaan-fnab-dalam-penegakan-diagnosa-tumor
http://rstn.boalemokab.go.id/berita-135-pemeriksaan-histopatologi.html
Bethy S. Hernowo, dr., Sp.PA(K)., Ph.D, “Teknik Pengelolaan Sediaan Sitologi” Fk/Unpad/Rsup Dr.Hasan Sadikin Bandung
